Berawal Dari Perjuangan Masa Lalu, Crisbar Konsisten Support “Pejuang Masa Depan” Lewat Free Refill Nasi Dan Es Teh
9 Juni 2026, Menjadi seorang pengusaha sukses merupakan impian banyak orang. Membangun sebuah usaha dari nol hingga dikenal oleh masyarakat luas juga tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik kesuksesan sebuah brand, sering kali terdapat cerita perjuangan yang menjadi alasan mengapa brand tersebut lahir dan bertahan hingga hari ini. Hal itulah yang terjadi pada Crisbar "Ayam Crispy Bakar". Brand kuliner yang kini dikenal luas di kalangan mahasiswa ini ternyata lahir dari pengalaman hidup sang founder, Hafizh Ihsaanuddin, saat menjalani masa kuliah sebagai mahasiswa perantauan dengan keterbatasan ekonomi.
Crisbar "Ayam Crispy Bakar”
merupakan sebuah brand dari Bandung yang menghidangkan ayam goreng krispi dengan lumuran saos
madu pedas manis yang khas dan terkenal dikalangan para mahasiswa. Menu awal Crisbar
mulanya bukan menjual Ayam Crispy Bakar Saus, justru Crisbar sendiri berdiri
atas motivasi Hafizh Ihsaanuddin saat melihat tren ayam Geprek yang sedang naik
daun di kota asalnya, Yogyakarta. Modal mendirikan Cribar sendiripun berawal
dari hal yang cukup sederhana
sebenarnya. Hafizh sendiri yang merupakan mahasiswa ITB penerima beasiswa
Bidikmisi, yang memulai semuanya dengan modal 15 juta Rupiah dan merupakan sisa
tabungan yang ia miliki.
Dengan modal yang terbatas,
Hafizh memberanikan diri untuk menyewa sebuah gerobak kecil bekas pedagang ayam
Goreng di kantin kampusnya. Kemudian ia sulap menjadi gerobak Crisbar untuk
diletakkan di area Tamansari Foodfest, kawasan Institut Teknologi Bandung ( ITB
), yang merupakan lokasi tongkrongan para mahasiswa. "Niat awal saya ingin
jualan makanan yaitu, supaya untungnya bisa buat makan sehari-hari aja. Karena
jujur saja, saat itu uang bulanan yang dikirim 6 bulan sekali itu gak cukup”,
ungkap Hafizh. “Dan disitu saya lihat menu ayam geprek belum ada di Bandung,
jadi akhirnya kita start sewa gerobak bekas pedagang kantin,” tambahnya.
Waktu berlalu, siapa sangka ayam
geprek Crisbar ini disukai oleh para pelanggan yang sebagian besar tentunya
dari kalangan mahasiswa. Yang unik dari bisnis ini, Hafizh sendiri sebenernya
tidak mempunyai background dalam industri FnB, namun ia jeli melihat peluang kuliner yang sedan
tren di kota asalnya, yakni Yogya. Hafizh cermat mengamati, bahwa “Saat ini
banyak sekali anak muda dari kota kecil merantau ke kota lain untuk menimba ilmu.
Cerminan itu seperti melihat diri saya sendiri saat harus merantau dari Yogya
ke Bandung.”
“Tentunya saya harus ekstra hemat
supaya semuanya cukup dengan beasiswa yang saya terima”, tambahnya. Maka, sejak
saat itu, Hafizh pun berkomitmen untuk mensupport “Pejuang Masa Depan" yang
kemudian diambilnya sebagai tagline Crisbar. Hal ini lalu dikemas sebagai promo menarik serta membantu para
mahasiswa untuk tetap bisa makan enak tapi tidak mahal, yani free refill nasi dan es teh untuk pelanggan
yang makan di tempat. Hingga saat ini pun promo Crisbar ini masih berjalan.
Bagi sebagian orang, promo tersebut mungkin terlihat biasa. Namun bagi
mahasiswa yang harus bisa survive dan bisa makan setiap hari, tambahan nasi dan minuman gratis sering
kali menjadi penyelamat di akhir bulan. Tak disangka promo ini pun disambut
baik oleh para pelanggan, hingga membuahkan angka penjualan yang cukup baik,
yakni 300 paket per hari dalam 1 bulan pertama Crisbar dibuka.
Melihat antusiasme pelanggan yang
terus meningkat, Hafizh pun mulai membuka beberapa cabang baru di sekitar
kampus-kampus besar di kota Bandung, mulai dari kawasan ITB, kampus Telkom
University, hingga Universitas Padjadjaran. Perkembangan tersebut pula yang
turut mendorong Crisbar untuk meningkatkan kenyamanan outletnya. Hafizh mengaku salah satu
alasan terbesar dirinya beralih dari konsep gerobak ke outlet ruko yaitu melihat banyaknya
pelanggan yang harus makan di trotoar, kepanasan, bahkan kehujanan untuk bisa
menikmati menu Crisbar. “Pelanggan datang buat makan dan enjoy di tempat kita, tapi tempatnya
kurang nyaman. Mereka rela makan di trotoar, panas-panasan, bahkan juga kadang
kehujanan. Saya pengennya mereka juga bisa menikmati makanan dengan lebih
nyaman” tambah Hafizh.
Kini, outlet Crisbar telah hadir di
berbagai kawasan kampus dan pusat aktivitas mahasiswa di Bandung maupun
Jabodetabek. Namun di balik pertumbuhan tersebut, satu hal yang tidak pernah
berubah adalah komitmen untuk tetap menjadi teman bagi para “Pejuang Masa
Depan” seperti ia memulai berjuang dulu sebagai anak rantau dari kota lain.
Sebab setiap pejuang masa depan berhak mendapatkan tempat untuk beristirahat,
mengisi tenaga, dan melanjutkan perjuangannya.